Kamis, 21 April 2011

hs sema


SPPM 
Sedikit penjelasan mengenai pembentukan dan dasar pelaksanaan HS
UKSW memiliki lima fungsi yaitu; menjadi universitas Scentiarum yang merupakan persekutuan akademik tingkat tinggi yang didasarkan  pada kebenaran alkitabiah. Magistorum et schoolarium, persekutuan antara ahli atau guru (magister) dan murid atau mahasiswa dalam lingkungan akademik untuk membentuk minoritas yang berdaya cipta (creative minority) dalam rangka membangun bangsa dan negara. Pembina kepemimpinan, perguruan tinggi UKSW menjadi pusat pembinaan kepemimpinan guna melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dalam masyarakatnya. Radar, menjadi pengerak atau pelopor dalam proses pembangunan bangsa dan negara (agent of change) dengan mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Pelayanan dan lembaga pendidikan pelayan, (diakonia) sebagai lembaga pendidikan dengan pelayanan sepanjang masa berupa kritik, saran, imformasi delam menanggapi masalah-masalah masyarakat dimana masih adanya ketidakadilan, kemiskinan dan masalah kemasyarakatan lainnya.
            Sedangkan tujuan UKSW dirumuskan demikian, menjalankan tridharma perguruan tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Menjadi perguruan tinggi kristen di Indonesia, yang berarti hidup dan kegiatannya pada satu pihak mempunyai motivasi dan merupakan bentuk iman kristen yang oikumenes dan pada pihak lain menjawab secara tepat dan bertanggung jawab kepada situasi sosiokultural dan kebutuhan bangsa serta negara RI. Mendorong dan mengembangkan sikap serta pemikiran yang kritis prinsipil dan kreatif, berdasarkan kepekaan hati nurani yang luhur dan dibimbing firman Allah. Menjadi pusat pemikiran dan pengalaman untuk pembinaan kehidupan yang adil, bebas tertib serta sejahtera. Mencari dan mengusahakan terdapatnya hubungan yang bermakna antara imen Kristen dengan berbagai ilmu dan kegiatan atau pelayanan.
Atas dasar pemahaman tentang dasar, asas, fungsi dan tujuan universitas, maka keberadaan mahasiswa paling tidak harus mempunyai dua kompetensi dasar, yaitu humanistik skill dan profesional skill.
Humanistik Skill dimaksudkan sebagai kemampuan menghadirkan diri secara manusiawi dalam kehidupan bermasyarakat yang turut bertanggung jawab bagi kelangsungan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyrakatan. Sedangkan Profesional skill  dimaksudkan sebagai kemampuan melaksanakan profesinya dengan berbekal ilmu pengetahuan akademik yang memadai dalam rangka mengaktualisasikan diri dalam masyarakat.
            Aspek humanistik skill diatas hendak dicapai dalam perguruan tinggi kristen UKSW dengan memperkembangkan kepribadian kristiani sebagai intisarinya. Ini berarti bahwa pendidikan kemanusiaan dan kemasyarakatan yang diterangi oleh nilai-nilai kekristenan. Untuk itulah indikasi-indikasi dari terpenuhinya kemampuan ini dijabarkan dalam lima kadar. Yaitu kadar religius, kadar kewarganegaraan kadar lingkungan,  kadar sosial budaya dan kadar manejerial yang merupakan bagian dari kedua kompetensi diatas. sedangkan aspek profesional skill dicapai dengan memperkembangkan secara sungguh-sungguh ilmu pengetahuan dan kepemimpinan dalam diri mahasiswa sehingga pemanfaatannya benar dapat diarakan demi kepentingan kesejahteraan manusia.
Ä Penjelasan kadar-kadar dalam (skenario I)
            Kadar religius dirumuskan sebagai suatu pemahaman yang tepat tentang pengertian beragama dan makananya bagi kehidupan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Untuk itu suatu pemahaman tentang agama dan inti dari ajaran agama tersebut sangat perlu dipahami agar terbentuk sikap etis yang dapat dipertanggung jawabkan kepada keyakinan keagamaannya dalam setiap tindakan dan perbuatannya.
            Kada Kewarganegaraan dimaksudkan sebagai suatu sikap yang menjunjung keberadaan bangsa dan negara Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dan mencapai cita-cita kemerdekaan. Untuk itu suatu pemahaman tentang dasar-dasar hidup berbangsa dan bernegaraperlu dipahami secara tepat agar dapat dihindarkanpengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan.
            Kadar lingkungan dimaksudkan sebagai kesadaran tentang perlunya pemeliharaan lingkungan hidup dan pemehaman tentang upya pengembangan potensi lingkungan hidup bagi kepentingan kehidupan umat manusia.
            Kadar Sosial budaya dimaksudkan sebagai pemahaman tentang nilai-nilai sosial budaya yang berkembang dalam masyarakatnya. Untuk itu konteks masyarakat dimana mahasiswa itu akan ditempatkan amatlah perlu diketahui seluk beluknya. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang dalam konteks masyarakat dengan nilai-nilai sosial budayanya. Oleh karena itu suatu pemahaman tentang nilai-nilai sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat sangat perlu diketahui oleh mahasiswa.
            Kadar manajerial dimaksudkan dalam kerangka humanistik skill adalah kemampuan untuk mengembangkan diri sebagai calon pemimpin dalam masyarakatnya. Untuk itu pemahaman tentang kepemimpinan yang hidup dan berkembang dalam masyarakatnya perlu dipahami secara mendalam. Sedangkan kadar manajerial dalam kerangka profesional adalah kemampuan pengembangan diri dalam pengembangan pengetahuan ilmu dan profesinya sehingga ia benar-benar menjadi pelopor pengembang ilmu dan teknologi.
            Kadar keilmuan dimaksudkan sebagai kemampuan yang bertanggung jawab tentang penguasaan ilmu pengetahuan yang dituntutnya menurut stratum pendidikan dan kemampuan pelaksanaan dan profesinya.
            Kadar solidaritas sosial dimaksudkan sebagai kemampuan penerapan ilmu pengetahuan dan profesinya bagi kepentingan kemanusiaan dan kemasyarakatan sehingga kesejahteraan masyarakat menjadi ukuran dari pelaksanaan dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan profesinya.
            Apabila kadar-kadar tersebut diatas dijumpai dalam diri seorang lulusan UKSW, maka dengan itu dapat dikatakan bahwaUKSW telah mempersembahkan kepada gereja masyarakat dan bangsanya sarjana-sarjana yang kreatif sesuai dengan gagasan UKSW tentang Creatif minority.
DARI PLKR UKSW 2010

Rabu, 20 April 2011

esensi eksistensi mahasiswa


MATERI 4
KUNCI
  1. Mengapa mahasiswa ada ?
  2. Mengapa menjadi mahasiswa ?
  3. Apa esensi eksistensi mahasiswa ?
  4. Hal apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan esensi eksistensi mahasiswa ?
  5. Ada apa dalam organisasi mahasiswa ?

“MAKNA EKSISTENSI MAHASISWA DAN MOTIVASI BERORGANISASI”

Tema sentral eksistensialisme lama adalah “hidup adalah untuk menderita”. Dengan melihat keadaan yang ada maka manusia secara sadar harus menerima kenyataan yang harus dialami. Tema sentral ini kemudian dikembangkan lagi oleh Victor Frankl karena Dia menyadari akan nilai yang lebih dalam yang ada dalam sebuah penderitaan. Konsep barupun muncul yaitu “manusia bertahan hidup untuk menemukan makna hidup dalam penderitaan”. Jika disana ada tujuan hidup, maka disana juga harus ada tujuan dalam penderitaan dan tujuan dalam kematian. Namun tak seorangpun dapat bercerita kepada tentang tujuan itu. Masing-masing orang harus menemukan tujuan hidupnya sendiri, dan harus menerima tanggung jawab dari jawaban yang ditemukanya. Jika dia sukses dia akan terus tumbuh menyibakkan semua kehinaan yang ada. Frankl telah menemukan kata yang begitu dalam maknanya.
Siapa yang memiliki alasan (WHY) untuk hidup akan sanggup mengatasi persoalan hidup dengan cara (HOW) apapun.
Mahasiswa, mengapa kamu menjadi mahasiswa sekarang ?


MAKNA KEHIDUPAN MAHASISWA
            Makna hidup satu orang berbeda dengan yang lainya, dari hari kehari-jam ke jam. Masalah yang dihadapi  karena yang dimaksud bukan makna hidup manusia secara umum melainkan makna hidup dalam arti khusus dari seseorang pada suatu waktu. Dalam menterjemahkan hal ini layaklah dikomparasikan dengan pertanyaan yang ditujuakan pada pertandingan catur, ”Ceritakan padaku, Master, Apa langkah terbaik di dunia ini?” singkatnya tidak ada satupun langkah seperti itu yang terbaik atau bahkan satu langkah yang terbaik merupakan bagian dari situasi khusus dalam sebuah permainan, demikian juga kepribadian khususnya dari sisi seseorang. Kasus yang sama juga untuk eksistensi mahasiswa. Seseorang tidak akan mencari makna abstrak dari hidupnya. Setiap orang memiliki medan sendiri atau misi sendiri dalam hidup untuk melaksanakan tugas konkret yang menuntutnya untuk diisi. Karenanya dia tidak dapat dipindahkan, dan hidupnya juga tidak dapat diulang. Jadilah tugas setiap orang adalah seunik kesempatanya dalam melaksanakannya.
            Perlu disadari bahwa posisi mahasiswa adalah kesempatan yang diberikan kepada seseorang  dan selalu ada tugas-tugas yang membayanginya. Kesempatan hidup menjadi mahasiswa bukanlah barang obralan yang tidak ada harganya didunia. Sebuah kesempatan pasti tidak akan datang berulang kali. Orang yang pandai adalah orang yang mampu memanfaatkan kesempatan sekecil apapun dan memanfaatkan kesempatan itu untuk kepentingan dirinya secara khususnya dan orang lain secara umumnya. Setiap situasi dalam hidup manusia menghadirkan suatu masalah untuk dipecahkan, pertanyaan tentang makna hidup dapat dibalik. Pada akhirnya, mahasiswa tidak dapat menanyakan apa makna hidupnya, namun dia harus lebih mengakui pada sesuatu yang ditanyakan oleh hidup. Singkat kata , apabila mahasiswa ditanya oleh kehidupanya: dan dia hanya bisa menjawab kehidupan dengan menjawab hidupnya sendiri; untuk hidup  mahasiswa harus bisa merespons dengan menerima tanggung jawab dan tanggung jawab yang ada adalah esensi dari eksistensi mahasiwa.

ESENSI EKSISTENSI MAHASISWA
Manusia adalah suatu mahluk yang bertanggungjawab dan harus mengaktualilkan potensi makna hidupnya. Kebenaran makna hidup mahasiswa harus ditemukan di dunia saat ini dari dalam diri atau psikologi mahasiswa itu, seakan hal itu merupakan suatu sistem yang tertutup. Tujuan eksistensi mahasiswa belum dapat ditemukan dalam apa yang disbut aktualisasi diri. Eksistensi mahasiswa esensial adalah transendensi diri ketimbang aktualisasi diri. Aktualisasi memang benar adalah tujuan, namun bukanlah tujuan untuk semuanya, untuk alasan sederhana manusia ingin mengusahakannya, sebagian adalah menafikannya. Hanya demi perluasan seseorang yang memiliki  komitmen pada dirinya akan mengisi makna hidupnya, untuk perluasan diri dia juga melakukan aktualisasi diri. Dengan kata lain aktualisasi diri khususnya mahasiswa tidak dapat dicapai bila ia dimulai dan diakhirai dalam dirinya, namun hanya suatu efek lain dari transendensi diri. Transendensi selalu ada kaitannya dengan spiritualitas, dan aktualisasi diri berkaitan pengan pembentukan capaian maksimal yang dapat dicapai individu. Bila dicontohkan dalam kehidupan mahasiswa misalkan saja bahwa dalam suatu ulangan semester mahasiswa dengan aktualisasi dirinya mengharuskan untuk mendapatkan nilai yang bagus (A) dengan aktualisasi itu dia menghalalkan segala cara misalkan mencontek, menghitung kancing, dll agar dia dapat memperoleh nilai (A). Namun berbeda apabila itu berhubungan dengan Transendensi diri, mahasiswa adalah mahluk yang mempunyai tanggung jawab kepada manusia lain dan kepada Tuhannya, dia akan lebih memilih mendapatkan nilai (AB) dengan jujur tanpa ada kecurangan sedikitpun, itu adalah wujud transendensi diri mahasiswa.
Makna hidup selalu berubah, bahkan tidak pernah berhenti. Kita dapat menggambarkan makna hidup ini melalui 3 cara yang berbeda :
1.      Dengan melakukan suatu perbuatan dengan penuh kesadaran
Dalam melakukan suatu hal ini selayaknya diingat kembali apa esensi eksistensi mahasiswa, yaitu tanggungjawab atas statusnya baik kepada sesama manusia dan juga hubungan dengan Tuhannya. Banyak suara, banyak media yang menyuarakan bahwa mahasiswa adalah agen of change.  Mahasiswa diberikan tanggung jawab sebagai  agen pembaharu / perubahan. Dengan tanggung jawab itu sudah selayaknyalah mahasiswa menjunjung tinggi tanggung jawabnya, dan memulai dari generasi ini untuk mengubah negara menuju jalan yang lebih baik.

2.      Dengan mengalami suatu nilai
Cara penemuan makna hidup dengan mengalami sesuatu, seperti bekerjanya alam atau kebudayaan dan juga pengalaman seseorang seperti cinta. Dalam bertindak spiritual dalam cinta mahasiswa dapat melihat ciri-ciri dan bentuk esensial pada orang yang dicintai; atau lebih dari itu dia dapat melihat apa yang lebih potensial yang ada dalam dirinya yang belum teraktualisasikan tetapi harus diaktualisasikan karena perannya sebagai mahasiswa. Tidak dapat dipungkiri dunia mahasiswa selalu berkaitan dengan cinta, kepandaian mahasiswa dalam memaknai cinta merupakan awal untuk mengaktualkan dirinya guna kepentingan dirinya dan sesamanya.

3.      Dengan penderitaan
Kapanpun seseorang bisa berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, situasi yang tak terhindarkan, nasib yang tak bisa berubah, penyakit yang tak terobati, ataupun juga status sebagai mahasiswa juga dapat dikatakan sebagai sebuah penderitaan bagi sebagian orang. Dengan demikian seseorang diberi kesempatan terakhir untuk mengaktualkan nilai tertinggi untuk mengisi makna terdalam, yaitu makna penderitaan. Menghadapi semua hal perlu kesiapan sikap untuk menjalani penderitaan, sikap dimana kita menanggung penderitaan itu diatas diri kita sendiri. Sebuah kata-kata bijak ”Adakah semua penderitaan ini, semua kematian yang menghantui, mempunyai suatu makna ? Karena jika tidak, puncaknya tidak ada makna untuk tetap hidup;” Hidup sebagai mahasiswa dengan segala kesibukannya kadang dianggap sebagai penderitaan yang benar adanya, namun selalu ada makna yang ada dalam semua kesusahan itu. Makna untuk sesama, karena Tuhan, untuk perubahan dan lainnya. Apabila orang takut akan menderita maka pastilah akan hancur dunia ini dengan begitu cepatnya karena manusia itu sendiri.
Rounded Rectangle: CINTAILAH SAMPAI TERASA SAKIT
(saat kamu menemukan bahwa cinta itu menyakitkan, saat itulah kamu menemukan cinta) 




Berkaitan dengan esensi eksistensi mahasiswa yaitu memegang tanggung jawab yang tinggi dalam kehidupan pribadi dan bersama maka perlulah kiranya mahasiswa bertanya bisa melalkukan apa sekarang dan nanti. Perlu dilihat kiranya kedudukan sebuah organisasi-organisasi yang ada dalam setiap tingkatan di sebuah Universitas. Adakah pokok-pokok yang dapat mendorong mahasiswa untuk mewujudkan esensi eksistensinya ? Banyak orang pasti akan mengatakan bahwa itu salah satu letak dari esensi eksistensi itu. Tanggung jawab yang ada dalam organisasi memberikan latihan yang begitu berharga bagi setiap mahasiswa untuk mempertegas eksistensinya bahwa Dia ada dan Dapat berperan mengubah lingkungannya kearah yang lebih maju sesuai yang diharapkan semua orang.

( Victor E. Frankl. LOGOTERAPI, Terapi Melalui Pemaknaan Eksistensi, Madzab Ketiga Wina)
Oleh    : Susilo Adi Pratomo